Keyakinan Teologis ke Ekspressi Kaum Professional (Bagian 2)
5. Total pada Allah (fillah)
Maknanya, hamba yang total pada Allah, berarti ia telah berada di kefanaannya, dan hanya Baqa’Nya (keabadianNya) yang ada. Dalam konstelasi Capital Spiritual, manusia Fillah, adalah maujud kefakirannya untuk bergantung pada Maha Kayanya Allah swt. Apa yang disebut kefakiran bukan miskin duniawi. Tetapi “Miskin pada Allah swt”. Karena hanya Allah Yang Maha Kaya, dan sekaya apa pun seorang hamba itu tetaplah makhluk manusia yang miskin. “Hai manusia kalian semua adalah fakir kepada Allah”.
Seorang hamba harus menggunakan akal rasionalnya di wilayah instrumental, managerial, dengan terus mencari inspirasi pada totalitas jiwanya kepada Allah swt. Manusia Fillah akan tenang dan tenteram dalam keteguhan jiwanya di hadapan Allah swt, cahayanya memancar psecara emanative pada akal fikirannya, lalu tumbuh gerak amal kinerja yang baik, dan terpotret sebagai akhlak mulianya.
Struktur kinerja manusia Fillah adalah:
Cahaya Ilahi, yang melimpah di batin terdalam mereka. Cahaya ini diolah melalui qalbu (hati) mereka, untuk menentukan sebuah keputusan. Keputusan hati, akan melahirkan kinerja amaliah, akal fikirannya memandu. Jika hatinya bersih maka keputusannya akan positip dan mulia. Jika hatinya kotor dipengaruhi ambisi dan nafsu, bahkan intuisi kriminalnya, kotor pula keputusannya.
6. Hanya bagi Allah (Lillah)
Hanya bagi Allah (Lillah) adalah dasar keikhlasan manusia dalam hidupnya. Manusia Lillah akan berorientasi serba bagi Allah, baik dalam ibadah maupun kerja professionalnya. Manajemen yang Lillah adalah manajemen yang melandaskan nilai-nilainya pada pembebasan dari dari ego, power, status social, status intelektual, jabatan, menyandarkan semuanya pada Daya dan Kekuatan Ilahi yang menyertainya.
Ia menjadi professional yang merdeka karena seluruh beban nafsu dan emosinya telah sirna. Pada saat yang sama ketakutan masa depan, kegelisahan masa lalu, dan fakta-fakta masa kini, tiba-tiba sirna karena rasa cintanya yang mendalam terhadap professionalitasnya yang berada dalam Genggaman Ilahi.
7. Berserah diri pada Allah (tawakal)
Banyak yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan atas kinerja professionalnya, hanya Ketika ia sedang gagal. Ia sebenarnya bukan sedang bertawakal, tetapi sedang menyerah atas kegagalannya. Ia bukan menyerahkan dirinya pada Tuhannya, tetapi ia sedang frustrasi atas kegagalannya.
Tawakal yang benar adalah menyerahkan seluruh usrusannya kepada Allah swt, Ketika kinerja belum dimulai, masih sebagai ide dan tekad. Keberserahan diri tempatnya pada qalbunya, hatinya, bukan pada akal fikirannya maupun fisiknya. Dalam hatinya paling dalam ia harus berserah total pada Allah. Semenytara akal fikiran dan fisiknya harus bergerak hidup dinamis dan positip.
Bagi manusia professional yang tawakal, bekerja sesungguhnya bukan mencari rizki.Karena rizki urusan Tuhan. Ia tidak sama sekali mau mengintervensi wilayah Ketuhanan. Kalau ia sedang bekerja karena Tuhan memerintahkannya bekerja, lalu dengan segala penghormatannya terhadap Tuhan yang memerintah, ia berkreasi dalam manajerialnya secara dinamis dan mulia. Betapa terhormatnya dirinya, karena ia diserahi jabatan oleh Tuhan untuk menata kehidupan, bahkan menata usahanya.
Ia akan menjaga tawakalnya dalam hati paling dalam, karena di dalam tawakal ada CintaNya yang Agung dan Mulia. CintaNya pada dirinya adalah kehormatan yang melampaui sukses syurgawinya, apalagi sekadar duniawinya.
Bukan Capital Spiritual
Munculnya ide-ide Capital Spiritual, terutama dari kalangan intelkektual maupun konsultan Sumberdaya Manusia dari Barat, lebih banyak mengimajinasikan sukses material dalam bisnis maupun politik, melalui Jalan Spiritual. Apakah dilakukan melalui ritual-ritual keagamaan, maupun janji-janji Syurgawi di dunia melalui doktrin keagamaan. Dan semua itu hanya memetic kegagalan spiritual di satu sisi, dan menimbun kemunafikan (hipokrisme) yang memuakkan di balik jubah spiritualnya.
Karena itu Capital Spiritual bukanlah:
- Ritual-ritual keagamaan maupun moral demi sukses material dan politik duniawi.
- Bukan ekspoitasi nilai-nilai ukhrawi untuk sukses duniawi.
- Bukan diukur dari sukses maupun kegagalan bisnis maupun politik
- Bukan orientasi sukses duniawi, baru orientasi ukhrawi (akhirat).
- Bukan tumpukan nikmat, tetapi terhalang dari Tuhan Sang Pemberi nikmat.
- Bukan keajaiban-kejaiban yang dijanjikan untuk lompatan sukses duniawi melalui gerakan mengatasnamakan Tuhan, rejeki berlipat ganda, maupun kesemuan-kesemuan spiritual yang menggelapkan jiwa.
- Bukan doktrin keseimbangan dunia akhirat dalam ukuran sukses material dan sukses syurgawi.
- Bukan menyeret nama Tuhan untuk mengancam konsumen maupun pesaing.
Jika itu terjadi, maka Capital Spiritual telah gagal dalam topeng kemunafikannya sendiri.
Visi Capital Spiritual adalah menyelamatkan manusia dari penderitaan spiritual ketika menghadapi problema duniawinya, khusunya dalam kegagalan atau meraih sukses bisnis dan politiknya. Karena itu Capital spiritual akan mewujudkan:
- Kebajikan di dunia sebagai dasar bagi kebijakan perusahaan, intitusi maupun negara.
- Kebajikan di akhirat dalam rangka menjalankan tugas individu sebagai manusia beriman
- Terbebas dan terlindungi dari siksaan neraka dunia maupun neraka akhirat dengan hadirnya Allah swt dibalik segalanya dan dalam situasi apa pun juga.
- Spiritualitasnya adalah kesadarannya bahwa adanya dan hadirnya Allah swt tidak bisa ditutup oleh dinding apa pun.
- Bahwa ampunan Allah swt akan diiringi melimpahnya rejeki, karena disaat manusia bersih dari noda dan dosanya, pikirannya akan jernih dan hatinya bersih. Keputusan-keputusannya bebas dari kepentingan nafsu dan egonya. Pada saat yang sama pintu-pintu rejekinya terbuka.
*) Lihat KHM Luqman Hakim, PhD dalam “Etos Kerja Bersama Allah swt: Menjadi Manusia Profesiional yang Merdeka”, makalah yang disampaikan dalam diskusi di Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin, Bogor, 18 Agustus 2025