Keyakinan Teologis ke Ekspressi Kaum Professional (Bagian 1)
KHM Luqman Hakim Ph D
Capital Spiritual tentu tidak bisa lepas dari basis-basis keyakinan teologis (at-Tauhid), yang paling fundamental dalam aksentuasi professionalism managemen maupun leadhership. Landasan ini diperkenalkan secara global oleh para Nabi dan Rasul, agar kehadiran manusia sebagai Khalifah di muka bumi, tidak dicederai oleh kebinatangan ekonomi dan politik, yang berakhir merusak lingkungan bumi dan alam sekitar, serta ketidak professionalan yang membabi buta, berakhir dengan perang, kekerasan dan pertumpahan darah.
Ibnu Arabi membuat landasan teologis yang fundamental, dengan membangun paradigma hubungan Ketuhanan dan Kehambaan (manusia): Dari Allah; Beserta Allah; Menuju Allah; Bersama Allah; Total pada Allah; Bagi Allah; Bersandar pada Allah.
1. Dari Allah (minallah)
Bahwa segala sesuatu berasal dari Allah swt, yang dalam konteks professionalism sehari-hari kita, adalah penyerahan pertanggungjawaban, dan Amanah dari-Nya berupa kepemimpinan bumi dan lingkungan alam untuk dikelola, dan kelak dipertanggungjawabkan secara historis maupun spiritual di dunia dan di akhirat. Inilah “Order of God” yang begitu luhur dan mulia, yang harus diaplikasikan dengan tata kelola yang terhormat dan professional, disertai kerelaan dan rasa syukur yang luar biasa.
Menyadari dan merasakan segala sesuatu sebagai anugerah dari Allah swt adalah sangat penting dalam membangun visi ke depan yang dimaujudkan pada praktek managerial dan leadership. Pada saat yang sama egoism, materialism, hedonism, dan pemusatan modal dan kekayaan pada individu atau institusi tertentu akan terhanguskan. Lalu muncul kesejahteraan dan kemakmuran merata dalam keadilan dan kasih sayang.
Maka metode yang harus ditempuh untuk mempraktekkan “Dari Allah” dalam praksis sehari-hari, secara spiritual sangat bergantung pada Pertolongan Ilahi (Inayah), dan secara rasional dan praktikal, haruslah disertai ikhtiar agar menemukan metodologi yang benar di Jalan Tuhan yang Lurus, agar Amanah dari Allah ini berkelindan dengan metode dan jalan para Nabi, Rasul, Syuhada’ dan Shalihin (orang-orang saleh).
Bukan metode yang ditempuh oleh mereka yang telah dimurkai Tuhan karena telah diperbudak oleh egoism dan materialism yang justru membuat mereka putus asa. Juga bukan jalan sesat yang telah dipresentasikan oleh kaum kapitalis, hedonis dan penuh keserakahan dalam perbudakan nafsu syahwatnya. Dua predikat gelap yang memuakkan bagi kelangsungan hidup kemanusiaan itu sendiri, karena mereka berjalan tanpa Cahaya Tuhan yang lurus dan benar.
Tanpa kesadaran bahwa cita-cita, kehendak, hasrat, tekad, niat itu datangnya juga dari Allah swt, manusia akan terus terjerembab dalam pengingkaran anugerah Tuhan yang sesungguhnya. Ia akan menjadi pemberontak Tuhan yang materalistik dan penuh dengan frustasi arogansif.
Allah swt memerintahkan manusia berikhtiar, dan karenanya diberi kekuatan-kekuatan akal dan pikiran, juga diberi nafsu agar terbangun semangat, namun harus dikendalikan dan dibersihkan dari emosi dan potensi destruksinya.
2. Beserta Allah (Allah ma’ana)
Maknanya, kesadaran bahwa Allah swt senantiasa menyertai kita dengan segenap Keagungan, Kebesaran, Kasih Sayang dan KeparipurnaanNya. Dalam konteks Capital Spiritual, ini sangat penting agar rasa ridha dan syukur muncul dalam aktivitas kinerja sehari-hari, sehingga rasa tawakkal (berserah dirinya) akan mendahului aktivitas dan usahanya. Efek dari kesadaran ini, ia akan tumbuh menjadi seorang professional bekerja dengan jiwa merdeka, kreativitas yang luas, menembus batas-batas ruang dan waktu, serta produktivitas yang membahagiakan.
Kesadaran ini juga menimbulkan sikap evaluatif, sekaligus preventif dari tindak pelanggaran professionalism. Karena Tuhan menyertainya, kapan dan dimana pun berada, dalam situasi apa pun. Jatuh bangunnya suatu usaha, tetap menyadari hadirnya kehendak dan kekuasan Tuhan di baliknya. Maka semangat besar di balik harapan, akan selalu ada dalam perspektif hidupnya. Ini bukan sikap apologia atas ketakberdayaan (kalua gagal ia kembalikan pada takdir, kalua sukses ia kembalikan pada prestasi diri). Cara pandang yang sesat, tentu saja.
Seseorang akan bekerja disertai “selubung Ilahi”, maka secara psikologis maupun spiritual akan membangkitkan gairah suci dari dalam jiwanya, dalam atmosfir Ridha dan Syukur yang tinggi. Ia tidak memandang lingkungan apa pun kecuali disana ada limpahan Nikmat-nikmatNya yang tak terhingga.
3. Menuju dan kembali pada Allah (ilallaah)
Umumnya professional modern memandang aktivitas hidupnya, usaha dan kinerjanya untuk memenuhi mimpi-mimpinya. Ketika mimpinya tercapai, ia bangun dari mimpinya, masuk dalam mimpi baru yang ilusif, karena ternyata ia sedang tidur panjang dalam khayalannya sendiri. Betapa tidak? Ia tak pernah puas dengan mimpi-mimpinya, yang tak lain adalah ilusi egonya yang diekploitasi oleh hasrat nafsunya. Ia tak pernah berfikir dan menyadari dari mana hidupnya, dengan siapa ia hidup, dan kemana tujuan hidupnya. Maka sehebat-hebat prestasi ia ia raih, malah berakhir dengan timbunan keputusasaan yang nestapa, sampai kematian menjemputnya.
Capital Spiritual yang benar, adalah mengembalikan ide, modal, manajemen,dan visi missi, dalam rangka sukses menuju Tuhan,sebuah Langkah besar menuju Sang Maha Besar, Allah Rabbul’ Izzah. Sebuah keniscayaan bagi mereka yang beriman kepada Allah swt, bahwa hidup ini dengan segala visi dan latar belakang, pada akhirnya manusia beriman menyadari bahwa ia sedang berjalan menuju pada Tuhannya. Bukan yang lain-Nya.
Dunia, alam semesta, sumberdayanya, managerialnya, tidak lebih dari instrument strategis harus dipertanggungjawabkan oleh manusia. Fasilitas duniawi bukan tujuan kepuasan hidup dengan segala kenikmatan ilusinya, tidak lain hanyalah instrument, kendaraan dan Cara Tuhan, agar manusia menuju kepadaNya penuh syukur. Lalu manusia selalu memandang Sang Pemberi nikmat (Al-Mun’im) bukan wujud material atau ilusi atas nikmat.
Seorang professional atau pun pekerja, buruh, bahkan CEO, saat berangkat dari rumahnya ke kantornya, alam pikirannya berorientasi pada sukses projek-projrk dan rencananya, tatapi hatinya, spiritnya sedang berorientasi menuju Tuhannya. Lalu muncul pencerahan dalam dirinya, bahwa ia bersama seluruh karyawannya, berduyun-duyun dalam barisan managerial yang terstruktur, melangkahkan jiwanya, spiritnya menuju Tuhannya.
Menuju Allah, berarti menyadari kehambaan dirinya, karena dengan segala Kasih Sayang Tuhan, dipastikan, Allah swt tidak akan menjerumuskan ke lembah penderitaan yang mentyiksa dan gelap. Yaitu segala sesuatu selain Allah swt, adalah kegelapan dan problema. Sedangkan kebahagiaan, kegembiraan, harapan, suka cita adalah Allah swt itu Sendiri. Inilah kesadaran kaum professional dalam bertauhid.
Menuju kepada Allah berrarti niat dan tekad jiwanya menuju kepada Allah, dan kembali pada Allah dalam suka dan duka, dalam sukses dan gagal, dalam bahagia dan sedih, tetap mengembalikan pada Allah swt. Karena takdir Allah swt itu sempurna, tidak ada yang cacat dan tercela.
4. Bersama Allah (Billah)
Bersama Allah swt bermana, tidak ada daya secara batin, dan tidak ada kekuatan secara lahir, kecuali karena Bersama Daya dan KekuatanNya (laa haula walaa quwwata illa billah). Apakah ini pernah muncul dalam benak professional modern? Sejauh mana kesadaran mereka akan keterlibatan Allah swt secara langsung dalam ide dan kinerja?
Dalam ajaran agama, kita diperintahkan memulai segala sesuatu yang baik dengan membaca “Basmalah”. Ada ide yang baik, program dan planing yang baik, bahkan cita-cita yang baik, belum tentu akan melahirkan sesuatu yang baik, manakala tidak ada kesertaan Basmalah saat memulainya. Dan berkah dari sukses besar bisa hancur sia-sia. Muncul konflik, kecemasan dan ketakutan yang tak terbendung.
Rahasia Basmalah, secara falasafi adalah kesadaraan akan Bersama Allah di balik dan di atas segalanya. Meja, ATK, computer dan android, adalah diantara representasi Nama-Nama Tuhan yang tersembunyi. Huruf dan kata, wacana dan keputusan-keputusan , adalah rentetan rahasia Nama-namaNya Yang Agung nan Indah. Jika kesadaran akan Nama-namaNya tidak pernah menyentuh hati manusia, manusia akan tumbuh menjadi zombie yang menakutkan dan mengerikan. Manusia akan diperbudak oleh teknologi, alam, sumberdaya alam, dan halusinasi egonya.
Tetapi jika manusia menyadari hadirnya Allah swt dibalik alam dan teknologinya, justru alam akan menjadi pengikut setianya. Alam bisa tunduk padanya. Alam menjadi pendukung perjalanan menuju kepada Tuhan, Bersama Tuhan.
Maka bisa disimpulkan manusia paling professional di muka bumi ini adalah manusia yang menyadari sepenuhnya sebagai hamba Allah swt dan menjalankan kehambaannya dengan benar. Dan itu semua muncul Ketika menyadari sepenuhnya bahwa Allah swt adalah Tuhan dengan segela HakNya untuk ditegakkan dalam jiwa kehambaannya. Bukan menjadi tuhan-tuhan kecil, yang menandingi Ketuhahan Ilahi.
Bersama Allah melalui kebersamaan
- Kehendak dan KuasaNya,
- Bersama Pertolongan dan AnugerahNya,
- Bersama Petunjuk dan PengetahuanNya,
- Bersama Daya dan KekuatanNya,
- Bersama Sifat-sifat KeparipurnaanNya
Betapa eloknya jika manusia bisa berikhtiar dan berkreasi disertai kesadaran seperti itu. Tentu saja akan mengembalikan semua itu kepada Allah (ar ruju’ ilallah), menyandarkan semua kinerjanya pada Allah (bukan pada diri sendiri), lalu percaya dirinya karena Allah bukan karena kompetensi dirinya.